Opini

Trivial Cinta

majas Diperbarui 17:06
Ukuran Teks:

Majas.id – Ada hal-hal dalam cinta yang sebenarnya remeh. Terlalu remeh untuk dibicarakan, bahkan terlalu kecil untuk dijadikan alasan seseorang bertahan atau pergi.

Tapi anehnya, justru dari hal-hal kecil itulah cinta sering terasa nyata.

Bukan dari bunga yang datang setiap minggu. Bukan pula dari kalimat aku mencintaimu yang diucapkan berkali-kali. Kadang cinta hadir dalam pertanyaan sederhana: sudah makan? Atau pesan singkat yang masuk ketika hari sedang buruk-buruknya.

Hal-hal seperti itu sering dianggap sepele. Trivial.

Padahal, manusia mungkin memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa dicintai. Kita hanya ingin merasa diingat.

Ada perbedaan antara dicintai dan merasa dicintai. Seseorang bisa saja memberikan banyak hal, tetapi gagal membuat orang di sampingnya merasa diperhatikan. Sebaliknya, seseorang yang tidak punya banyak hal untuk diberikan bisa membuat kita merasa cukup hanya karena ia ingat detail-detail kecil tentang kita.

Ia tahu kopi kita harus sedikit gula. Ia tahu kalau kita sedang diam bukan berarti sedang baik-baik saja. Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan cukup duduk menemani.

Tidak ada yang istimewa dari semua itu jika dilihat dari luar.

Namun cinta memang sering bekerja seperti itu. Ia tidak selalu tumbuh dari peristiwa besar. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang sampai tanpa sadar menjadi bagian dari hidup.

Masalahnya, kita sering baru menyadari nilai hal-hal kecil setelah semuanya tidak lagi ada.

Pesan “hati-hati di jalan” yang dulu terasa biasa, tiba-tiba menjadi sesuatu yang dirindukan. Pertanyaan “sudah sampai?” yang dulu kadang dianggap mengganggu, suatu hari justru dicari-cari.

Barangkali manusia memang punya kebiasaan buruk: menganggap sesuatu biasa ketika masih memilikinya, lalu menyebutnya berharga ketika telah kehilangan.

Karena itu, cinta tidak selalu perlu dibuktikan dengan sesuatu yang besar. Kadang ia cukup dengan hadir.

Cukup dengan mendengarkan cerita yang sebenarnya sudah pernah diceritakan. Cukup dengan menunggu seseorang menyelesaikan kalimatnya. Cukup dengan tidak pergi ketika suasana sedang tidak menyenangkan.

Sebab mencintai seseorang bukan hanya soal bagaimana kita memperlakukannya ketika sedang bahagia. Cinta justru lebih mudah dikenali ketika keadaan tidak sedang baik-baik saja.

Di situlah hal-hal trivial menemukan maknanya.

Secangkir kopi yang dibuat tanpa diminta. Jaket yang dipinjamkan ketika malam mulai dingin. Pesan yang dikirim tanpa alasan. Mengingat tanggal yang bahkan kita sendiri lupa. Atau sekadar menyimpan cerita kecil seseorang di kepala, karena kita tahu cerita itu penting baginya.

Tidak ada yang heroik. Tidak ada yang layak dijadikan film. Tetapi mungkin memang bukan itu ukuran cinta.

Kita terlalu sering membayangkan cinta sebagai sesuatu yang dramatis. Seolah-olah cinta harus selalu berupa pengorbanan besar, perjalanan jauh, kejutan mahal, atau janji yang terdengar indah.

Padahal, sebagian besar kehidupan bersama seseorang justru terdiri dari hal-hal yang tidak dramatis.

Bangun tidur. Sarapan. Bekerja. Bertengkar soal hal kecil. Bertukar kabar. Menunggu. Pulang. Makan malam. Tidur. Berulang.

Dan di antara rutinitas yang membosankan itu, cinta menemukan tempatnya.

Mungkin cinta yang paling dewasa justru tidak terlalu banyak bicara tentang cinta. Ia hadir dalam cara seseorang memperlakukan kita ketika tidak ada yang melihat.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak hidup dari kata-kata besar. Kita hidup dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dan mungkin, cinta pun demikian. Tampak kecil, tetapi tidak pernah benar-benar sepele. (*)

Tinggalkan komentar