Majas.id – Upaya menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso.
Program bertema “Optimalisasi Budaya Literasi Anak Desa melalui Pemanfaatan Rumah Baca” tersebut digelar pada 16 Agustus 2026 dengan melibatkan 35 anak berusia 6–9 tahun serta perangkat desa.
Kegiatan tidak hanya mengajak anak membaca, tetapi juga menghadirkan pendekatan belajar yang lebih menyenangkan. Peserta mendapatkan pendampingan membaca dan masing-masing menerima dua buku bacaan yang dapat dibawa pulang untuk dibaca kembali di rumah.
Permainan edukatif dan permainan tradisional turut menjadi bagian dari kegiatan. Pendekatan tersebut digunakan agar anak tidak memandang aktivitas literasi sebagai kegiatan yang monoton, sekaligus memberikan alternatif aktivitas di luar penggunaan gawai dan permainan daring.
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Desa Banyuputih itu mendapat sambutan positif dari pemerintah desa. Kepala Desa Banyuputih, Ahmad Syahid, menilai program yang melibatkan anak-anak secara langsung di lingkungan desa dapat memberikan manfaat bagi perkembangan generasi muda.
“Program PKM ini sangat bermanfaat untuk kemajuan pemuda ke depan. Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan dengan melibatkan anak-anak di pendopo desa, sehingga pendopo menjadi lebih ramai dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Ahmad Syahid, Kamis (10/9/2026).
Menurut Ahmad, Desa Banyuputih juga memiliki sejumlah agenda dan potensi yang dapat dikembangkan. Salah satunya sebagai desa percontohan dalam upaya pencegahan pernikahan usia dini.
Selain itu, desa tersebut memiliki sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari potensi unggulan Kecamatan Wringin, Bondowoso.
Dosen Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran FEB UNESA, Muhammad Wahyu Ariyanto, mengatakan pembentukan budaya literasi perlu dimulai sejak anak berada pada usia dini.
“Pendidikan anak harus dimulai sejak dini, salah satunya melalui budaya membaca. Anak perlu didukung dan diberikan lingkungan yang mendorong mereka untuk mau belajar membaca dan menulis,” ujar Muhammad Wahyu Ariyanto.
Ia menilai metode dalam membangun kemampuan literasi juga perlu disesuaikan dengan karakter anak. Karena itu, permainan edukatif dan permainan tradisional dapat dimanfaatkan sebagai media belajar yang interaktif dan menyenangkan.
Menurutnya, kegiatan semacam itu sekaligus dapat menjadi alternatif aktivitas bagi anak sehingga tidak terlalu bergantung pada permainan berbasis internet.
Program PKM tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan masyarakat desa. Pemanfaatan rumah baca, penyediaan buku, pendampingan membaca, serta kegiatan edukatif diharapkan dapat membentuk kebiasaan membaca yang berkelanjutan.
Penguatan literasi, pada akhirnya, tidak hanya bergantung pada sekolah. Peran keluarga, masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dibutuhkan agar anak memiliki lingkungan yang mendukung proses belajar.
Melalui kolaborasi tersebut, anak-anak di Desa Banyuputih diharapkan memiliki ruang belajar yang lebih beragam dan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan serta potensi mereka sejak dini. (*)