Majas.id – Malam Minggu biasanya punya tempat khusus dalam ingatan banyak orang. Jalanan lebih ramai, warung kopi penuh, pusat kota hidup sampai larut, dan anak-anak muda mencari cara sederhana untuk menghabiskan waktu. Tidak harus dengan uang banyak. Kadang cukup duduk berdua, berbincang di trotoar, menikmati kopi sachet, atau sekadar berkeliling tanpa tujuan.
Tapi ada malam ketika keramaian justru terasa menyedihkan.
Bukan karena kota benar-benar sepi. Lampu jalan tetap menyala. Kendaraan masih lalu-lalang. Kafe dan tempat makan tetap membuka pintu. Orang-orang tetap mengunggah foto dan video ke media sosial. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa hilang: kegembiraan yang tumbuh secara alami dari kehidupan kota.
Malam Minggu perlahan berubah menjadi urusan kemampuan membeli.
Yang punya uang bisa memilih tempat makan, nongkrong, menonton film, atau bepergian ke tempat wisata. Yang tidak punya cukup uang akhirnya menjadi penonton dari kemeriahan itu. Mereka melihat kehidupan orang lain melalui layar ponsel, sementara dirinya sendiri hanya menghitung sisa saldo.
Di kota-kota kecil, keadaan ini terasa lebih kentara. Pilihan hiburan tidak banyak, ruang publik yang nyaman terbatas, sementara harga kebutuhan terus bergerak naik. Nongkrong yang dulu cukup dengan segelas kopi kini bisa menjadi pengeluaran yang harus dipikirkan berkali-kali.
Ada ironi di sana. Kota terlihat semakin modern, tetapi ruang untuk menikmati kota secara gratis justru semakin sedikit.
Taman menjadi tempat parkir. Trotoar tidak selalu ramah bagi pejalan kaki. Ruang publik kadang hanya ramai ketika ada acara pemerintah atau kegiatan komersial. Anak muda akhirnya mencari tempat berkumpul sendiri: warung kopi, kafe, atau pinggir jalan.
Kita sering mengukur kemajuan kota dari gedung yang berdiri, investasi yang masuk, atau jumlah proyek yang dibangun. Jarang kita bertanya apakah warga merasa bahagia tinggal di dalamnya.
Padahal kota bukan sekadar kumpulan bangunan.
Kota adalah tempat manusia bertemu. Tempat anak-anak bermain, orang tua berjalan sore, anak muda bercakap-cakap, pasangan menikmati malam, dan warga dari berbagai latar belakang bisa berada di ruang yang sama tanpa harus membeli tiket masuk.
Karena itu, malam Minggu yang menyedihkan bukan semata-mata persoalan anak muda yang tidak punya tempat hiburan. Ia merupakan tanda bahwa ruang sosial kita mungkin semakin sempit.
Kita terlalu sering menyerahkan urusan kebahagiaan kepada pasar. Mau bersantai, bayar. Mau menikmati pemandangan, bayar. Mau duduk nyaman, bayar. Mau berkumpul di tempat yang layak, setidaknya harus membeli sesuatu.
Lama-lama, menikmati kota menjadi hak istimewa bagi mereka yang mampu.
Padahal kebahagiaan warga tidak selalu membutuhkan proyek besar. Sebuah taman yang bersih dan aman sudah cukup. Trotoar yang nyaman bisa menjadi tempat bertemu. Alun-alun yang hidup dapat menjadi ruang rekreasi keluarga. Pertunjukan seni di ruang terbuka bisa membuat kota memiliki denyut kebudayaan.
Yang dibutuhkan bukan selalu kemewahan. Yang dibutuhkan adalah ruang.
Malam Minggu seharusnya tidak menjadi malam untuk mempertontonkan siapa yang mampu dan siapa yang tidak. Ia semestinya menjadi kesempatan bagi warga untuk merasa bahwa kota ini juga milik mereka.
Sebab ketika seseorang tidak mampu membeli secangkir kopi di kafe, bukan berarti ia tidak berhak menikmati malam.
Dan jika satu-satunya cara untuk merasakan kehidupan kota adalah dengan mengeluarkan uang, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan mengapa anak muda semakin jarang keluar rumah.
Melainkan: kota macam apa yang sedang kita bangun?
Malam Minggu akhirnya menjadi menyedihkan bukan karena malamnya. Tetapi karena terlalu banyak orang yang tidak lagi menemukan alasan untuk bergembira di kotanya sendiri. (*)