Majas.id – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Timur untuk memulai penilaian lapangan Agro Innovation Award 2026.
Penilaian dilakukan untuk melihat langsung inovasi desa yang dikembangkan kader Ansor yang menjabat sebagai kepala desa. Program ini menyasar sejumlah bidang, mulai dari pertanian, ketahanan pangan, lingkungan hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Pada hari pertama, Senin, 17 Agustus 2026, tim penilai mendatangi dua desa di Kabupaten Ponorogo, yakni Desa Krisik di Kecamatan Pudak dan Desa Mrican di Kecamatan Jenangan.
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, mengatakan Agro Innovation Award bukan sekadar kompetisi untuk mencari desa terbaik. Menurut dia, program tersebut dirancang untuk menemukan inovasi yang telah berjalan di desa, mendokumentasikannya, lalu membuka peluang agar praktik tersebut dapat diterapkan di daerah lain.
“Kemerdekaan harus kita maknai dengan menghadirkan kemandirian. Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi pusat lahirnya inovasi, ketahanan pangan, dan kekuatan ekonomi masyarakat,” kata Musaffa, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia menilai kader Ansor yang dipercaya menjadi kepala desa mempunyai ruang strategis untuk menerjemahkan semangat pengabdian organisasi melalui kebijakan yang berdampak langsung kepada warga.
Mengubah Limbah Peternakan Menjadi Sumber Daya
Di Desa Krisik, tim penilai melihat inovasi yang dikembangkan Erwan Santoso. Selain sebagai kepala desa, Erwan merupakan kader Ansor dan Satkoryon Banser Kecamatan Pudak.
Erwan masuk nominasi Kategori Inovasi Pertanian Terintegrasi dan Ekonomi Sirkular melalui program budidaya cacing untuk mengelola limbah peternakan sekaligus memperkuat pertanian organik.
Konsep tersebut berangkat dari persoalan limbah peternakan yang kemudian dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian. Melalui budidaya cacing, limbah diolah menjadi bagian dari ekosistem pertanian organik.
Bagi tim penilai, model yang dikembangkan Desa Krisik memperlihatkan bagaimana peternakan, pengelolaan limbah, budidaya cacing dan pertanian dapat ditempatkan dalam satu sistem yang saling menunjang.
Pendekatan itu sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular: limbah tidak berhenti sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi diolah kembali agar memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Dari Lindi Sampah Menjadi Pupuk
Dari Krisik, penilaian berlanjut ke Desa Mrican, Kecamatan Jenangan. Desa ini dipimpin Adi Purnomo Sidik, anggota Banser setempat yang masuk nominasi melalui inovasi pemanfaatan lindi sampah dan limbah organik menjadi pupuk organik cair.
Inovasi tersebut dikembangkan dari persoalan sampah rumah tangga dan limbah organik. Bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan dimanfaatkan untuk menghasilkan pupuk yang dapat digunakan dalam kegiatan pertanian masyarakat.
Pengolahan itu tidak hanya menawarkan solusi dari sisi lingkungan. Limbah yang diubah menjadi produk bernilai guna juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Konsep tersebut menjadi bagian dari gagasan ekonomi sirkular yang didorong dalam Agro Innovation Award 2026, yakni mengubah cara pandang terhadap limbah agar tidak semata-mata diposisikan sebagai barang buangan.
Penilaian Tak Berhenti di Ponorogo
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jawa Timur sekaligus Kasatgas Patriot Ketahanan Pangan Ansor Jawa Timur, H. Deni Prasetya, mengatakan penilaian lapangan akan berlanjut ke sejumlah daerah lain yang masuk nominasi.
Deni bersama H. Nur Junaidi Amin memimpin tim penilai dengan mendatangi langsung lokasi inovasi dan melihat penerapannya di lapangan.
“Penilaian lapangan ini penting karena kami tidak hanya melihat proposal atau konsep di atas kertas. Kami ingin melihat langsung bagaimana inovasi tersebut berjalan, seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat, keberlanjutannya, serta kemungkinan untuk direplikasi di desa-desa lain,” ujar Deni.
Menurut dia, kompetisi tersebut juga diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan antar-kader Ansor yang mengelola pemerintahan desa.
“Dari desa-desa inilah kita ingin menemukan model pertanian yang produktif, berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Pemenang Berkesempatan Belajar ke China
PW GP Ansor Jawa Timur akan menentukan kepala desa terbaik berdasarkan hasil penilaian lapangan dan proses penjurian Agro Innovation Award 2026.
Para kepala desa dengan inovasi terbaik akan memperoleh kesempatan mengikuti studi pertanian ke China pada September 2026 tanpa biaya.
Kunjungan tersebut diharapkan memberi kesempatan kepada para kepala desa kader Ansor untuk melihat secara langsung perkembangan teknologi pertanian, inovasi pangan, serta model pengembangan ekonomi pedesaan yang dapat menjadi referensi bagi daerah masing-masing.
Musaffa mengatakan kesempatan tersebut menjadi bagian penting dari tujuan program. Penghargaan, kata dia, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kompetisi.
“Hadiah terbaik dari kompetisi ini bukan hanya penghargaan. Yang lebih penting adalah membuka cakrawala para kepala desa agar melihat bahwa inovasi pertanian dan ketahanan pangan harus terus berkembang. Kita ingin kader Ansor menjadi bagian dari perubahan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, Agro Innovation Award merupakan bagian dari upaya PW GP Ansor Jawa Timur memperkuat peran kader di tengah masyarakat.
“Dari desa, kita menjaga Indonesia. Dari tangan kader, kita tumbuhkan inovasi. Dan dari pertanian, kita bangun kemandirian bangsa,” jelasnya. (*)